“Jalan yang Lurus adalah Nikmat Terbesar”

oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

[dinukil dari buku karya beliau, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, muqaddimah cetakan pertama]

Alhamdulillaah, wash shalaatu was salaamu ‘ala Rasulillaah wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin… amma ba’du;

Pembaca yang budiman, Allah Ta’ala telah berfirman dalam rangka mengingatkan para hamba-Nya tentang besarnya nikmat yang Dia anugerahkan kepada mereka, Dia berfirman (yang artinya):

“Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan ke-Islaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan ke-Islamanmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukimu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujuraat: 17)

Maka, alhamdulillaah, segala puji hanya milik Allah Ta’ala yang telah menunjukkan Islam kepada kita dan kita tidak akan pernah mendapat petunjuk jika tidak dianugerahi hidayah oleh-Nya.
Di antara karunia dan nikmat Allah Ta’ala bagi ummat ini adalah diutusnya Nabi Muhammad shallallaahu ‘alahi wa sallam kepada ummat Islam.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman tatkala Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur-an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya, sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)

Dengan diutusnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala menjadikan mata yang buta terbuka, menjadikan telinga yang tuli mendengar dan membuka qalbu yang terkunci mati. Dengan diutusnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala menunjuki orang yang sesat, memuliakan orang yang hina dan menguatkan orang yang lemah, serta menyatukan orang dan kelompok setelah bercerai-berai dan bermusuhan.
Kemudian, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Beliau menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan berjihad di jalan Allah ‘Azza wa Jalla dengan jihad yang sebenar-benarnya, hingga kematian datang kepada beliau shallallaahu wa sallam sementara ummat manusia masuk ke dalam agama Allah Ta’ala dengan berbondong-bondong. Semoga Allah Ta’ala senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan memberi ganjaran yang lebih besar atas jasa beliau kepada kita, melebihi ganjaran yang pernah diberikan-Nya kepada seorang Nabi karena berjasa kepada ummatnya.
Tatkala Allah Ta’ala menyempurnakan agama yang Dia ridhai untuk menjadi agama bagi ummat ini, Allah menurunkan ayat kepada Nabi-Nya dalam rangka mengingatkan beliau dan ummat-nya terhadap karunia-Nya, yaitu sebuah ayat yang artinya:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maa-idah: 3)

Ayat ini turun pada hari besar ummat Islam, hari berkumpulnya kaum Muslimin yang paling agung yaitu hari dilaksanakannya wukuf di ‘Arafah yang bertepatan dengan hari Jum’at sebagai hari raya ummat Islam setiap pekannya. Ummat manusia telah berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka para Shahabat mendengar langsung ayat ini dari lisan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka mengetahui besarnya karunia dan nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka berupa agama ini dan Allah telah menyempurnakan dan memilihnya untuk mereka. Para Shahabat pun mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah memilih mereka untuk mengibarkan dan menyebarkan panji-panji agama-Nya, berjuang dan berkorban di jalan-Nya, baik dengan jiwa maupun dengan harta dan raga, dengan meneladani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ini pun merupakan nikmat dan karunia dari Allah Ta’ala atas ummat ini, yaitu karena mereka telah membawa bendera jihad dan dakwah, menyampaikan Dienullaah (agama Allah) di atas dasar ilmu sehingga Islam menyebar di berbagai penjuru dunia dan cahaya Islam menerangi belahan Timur dan Barat bumi ini, melalui perjuangan mereka radhiyallaahu ‘anhum.
Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama Islam dan Allah juga yang memelihara agama-Nya. Hal ini selaras dengan firman-Nya (yang artinya):

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur-an) dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Maksud dari Allah Ta’ala memelihara agama Islam adalah Al-Qur-an maupun As-Sunnah terpelihara dan keduanya tetap dijaga oleh Allah Ta’ala.
Imam Muhammad bin Ibrahim al-Wazir (hidup tahun 775-840 H) rahimahullaah berkata dalam kitabnya: “Konsekuensi dari ayat ini adalah bahwa syari’at Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tetap terpelihara dan Sunnahnya tetap dijaga oleh Allah.”

Terpeliharanya Al-Qur-an dan As-Sunnah tidak lepas dari perjuangan para Shahabat Nabi radhiyallaahu ‘anhum, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in ridhwaanullaahi ‘alaihim ajma’iin dalam berdakwah dan menegakkan kebenaran.
Jalan yang ditempuh oleh para Shahabat radhiyallaahu ‘anhum diikuti oleh para Tabi’in dan ulama yang menetapi manhaj Salafush Shalih. Mereka mengajak manusia kepada agama ini. Mereka berjihad fii sabilillaah dan tampil membela al-haqq (kebenaran). Mereka merintis jalan agar mudah ditempuh oleh umat manusia untuk mendengar suara al-haqq (kebenaran). Dan setiap ada ulama yang meninggal dunia, maka Allah Ta’ala menggantinya dengan generasi baru, dan mereka adalah penerus terbaik yang mewarisi generasi Salaf terbaik.
Dalam kaitan ini, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا
“Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk ummat ini pada awal setiap seratus tahun orang yang men-tajdid agama mereka.”

Maka, alhamdulillaah, segala puji hanya milik Allah Ta’ala yang telah menjadikan pada setiap masa yang kosong dari para Rasul, pewaris yang terdiri dari ulama yang berdakwah dan mengajak orang yang sesat kepada hidayah. Mereka tabah dan sabar menghadapi bermacam-macam tantangan dan ujian untuk menghidupkan mereka yang mati hatinya dengan Kitabullah dan dengan cahaya Allah Ta’ala, menjadikan terbuka mata mereka yang buta. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang (hatinya) telah mati terbunuh oleh iblis kembali dihidupkan dan banyak dari mereka yang sesat dan kebingungan, kembali mendapat petunjuk.
Alangkah baik warisan mereka untuk manusia tetapi sebaliknya, sungguh buruk penerimaan sebagian manusia terhadap warisan mereka. Para ulama itu telah tampil menolak manipulasi Kitabullah yang dilakukan oleh mereka yang berlebih-lebihan, dan mencegah pemalsuan orang-orang yang berkecimpung dalam kebathilan serta menolak ta’-wil terhadap Kitabullah yang diperbuat oleh orang-orang bodoh yang mengibarkan bendera bid’ah dan melepaskan tali pengikat fitnah. Mereka adalah orang-orang yang berselisih tentang Kitabullah sekaligus menyelisihinya. Mereka bersepakat untuk memisahkan diri dari Kitabullah dengan membahas tentang Allah dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka menyampaikan pendapat dan ucapan yang mengandung syubhat yang membingungkan dan mengecoh orang-orang awam. Kita berlindung kepada Allah dari fitnah orang-orang yang sesat.

Alhamdulillaah, segala puji hanya milik Allah, Rabb sekalian alam, yang telah memberi karunia berupa hidayah taufiq kepada hamba-Nya, baik berupa ilmu yang bermanfaat, iman, amal shalih maupun pemahaman yang benar dan manhaj yang haq (benar), yaitu mengikuti jejak Salafus Shalih ridhwaanullaah ‘alaihim ajma’iin.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para Shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari Kiamat.

———————————————————————————–

selesai dikutip di bogor, di kediaman kami yang semoga Allah melimpahkan berkah-Nya. Aamiin.